Jumat, 04 Januari 2013

HATI HATI PENYAKIT


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh1J7bLoSwpJMkvHN5dMaewXxSCizclqtNycE4MGMCmNpSfCh1J-kXj7L4RF64O_xHhwZnWQKy2ZjPeHv8Biv_7009U83IUuiwO1oLS_gETQWDAcMhNYeBGWc47K1XL-ewHVWRSaArSflT5/s1600/gaya-kencing-cewek-2.jpg

Waspadai sering kencing dimalam hari? apakah Anda termasuk orang yang sering kencing di malam hari? Bila ya, waspadalah. Sebab, kebiasaan tersebut bisa jadi pertanda adanya penyakit serius sedang menghampiri Anda.

Orang yang sering buang air kecil pada malam hari rupanya mempunyai risiko tinggi yang berujung pada kematian. Meskipun orang bersangkutan baru saja sembuh dari kondisi kronis. Penelitian ini berdasarkan studi terbaru yang dilakukan para ahli dunia baru-baru ini. Penelitian ini menjabarkan bahwa kebiasaan buang air kecil di malam hari, merupakan kondisi medis yang diperkirakan menjadi penyebab kematian di kalangan orang dewasa maupun kalangan lanjut usia.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjGT1yUd-gs9M2ot0CjZ774w4D1KkQe3nde5mdxix4YejsEEwodVLoDakMerYKy2oOdrZXwTqwXPbpqWVeDQdBLa_3mhhkURcRKUr5k0bHQ5cenwevIJU-fwj7MO-PPnXcfnovidNgQnAY/s320/cewek-kencing-berdiri.JPG

Studi tentang hal ini pertama kali dilakukan oleh peneliti New England Research Institute di Watertown, Massachusetts. Para peneliti tersebut memeriksa rekam kesehatan pada sedikitnya 16.000 pria dan wanita pada usia 20 tahun ke atas.

Mereka menemukan bahwa orang-orang yang bangun di malam hari dan buang air kecil sebanyak dua kali atau lebih, mempunyai risiko kematian yang lebih tinggi dibanding orang yang buang air kecil kurang dari dua kali pada malam hari.

Hubungan antara kebiasaan buang air kecil dan risiko kematian ini terutama dapat terjadi pada penderita diabetes dan penyakit kardiovaskular. Risiko kematian akan hal ini juga sangat tinggi pada orang yang berusia antara 20 tahun sampai 64 tahun, ketimbang orang yang berusia 65 tahun ke atas.

“Pada orang muda yang mengaku sering mengalami buang air kecil di malam hari, mempunyai risiko kematian dua kali lebih tinggi daripada orang yang tidak memiliki kebiasaan ini. Sementara orang dewasa yang intens buang air kecil pada malam hari, memiliki risiko kematian sebesar 20–30 persen lebih tinggi,” papar peneliti dari New England Research Institutes, Varant Kupelian seperti dikutip dari laman healthday.com.

Varant menguji data dari Third National Health dan Nutrition Examination Survey (NHANES III) yang dilakukan antara tahun 1988 dan 1994. Termasuk data sertifikat kematian yang terdapat pada indeks kematian nasional hingga sepanjang Desember 2000.

Dalam kelompok studi yang terdiri atas 15.988 pria dan wanita, kebiasaan buang air kecil pada pria sebanyak 15,5 persen sedangkan pada wanita 21 persen dan semakin tinggi seiring bertambahnya usia. Varant menyatakan, seringnya buang air kecil bisa menjadi pertanda bahwa orang bersangkutan tengah mengalami penyakit yang tidak terdeteksi atau perkembangan dari penyakit kronis. Ditambahkannya, kebiasaan buang air kecil ketika tengah tertidur dapat pula berisiko pada penyakit lain. Umpamanya kerapuhan tulang yang terjadi ketika orang hendak bangun dari tempat tidur untuk pergi ke kamar kecil.

Penelitian yang hampir serupa berkaitan dengan kondisi ini juga pernah dilakukan oleh para peneliti dari Fakultas Kedokteran di Universitas Tohoku, Sendai. Peneliti menguji sebuah kelompok yang bermukim di perkotaan yang berada di utara Jepang. Hasil yang didapat dari penelitian tersebut sama dengan yang penelitian yang dijalani tim di Amerika Serikat.

Kali ini para ahli di Jepang menguji kesehatan 788 pria dan wanita dengan kisaran usia 70 tahun lebih. Peneliti juga merekam data kematian orang-orang tersebut selama lima tahun. Salah seorang peneliti, Dr Haruo Nakagawa, menemukan peningkatan risiko kematian yang tinggi terjadi pada orang-orang lanjut usia tersebut dengan seringnya kebiasaan buang air kecil di malam hari yang mereka alami. Kondisi ini sudah termasuk memperkirakan penyebab kematian lain yang mungkin terjadi di luar kebiasaan itu.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh5n_lyPtWc3uvpN2ammsV7nLFldv2g-3iXp0tYRig6LuEWueApVjo2XIUeqgmhVH_5a4J0nwpONSPB1u4DWJfWT5sI3mUIydCLc1m6Sk2NSiL7txVZ54LodtEU0p-KxUjkwHhiiCGtXwo/s320/gaya-kencing-cewek-gokil.jpg

Dr Haruo kemudian menyimpulkan bahwa semakin sering kebiasaan buang air kecil ini terjadi, maka orang yang bersangkutan mempunyai risiko kematian yang juga semakin tinggi.

“Kedua penelitian ini menunjukkan hubungan yang sama, yakni antara frekuensi buang air kecil dan tingginya risiko kematian,” kata Haruo. Lebih lanjut Haruo mengatakan, langkah selanjutnya adalah mencoba mengidentifikasi faktor-faktor yang menjadi penyebab hubungan ini.

“Pesan yang perlu disampaikan kepada pasien adalah jangan lantas menjadi panik ketika Anda termasuk orang yang sering buang air kecil di malam hari,” kata Dr Tomas L Griebling selaku wakil kepala Departemen Urologi di Universitas Kansas, Kansas City. Yang perlu dilakukan, ungkap Tomas, adalah mengatakan keluhan ini kepada dokter Anda. Sebab, mungkin saja Anda mengidap penyakit yang sebelumnya tidak terdeteksi.

Kebiasaan buang air kecil ini terutama terjadi pada perokok ataupun mantan perokok. Bagi Anda yang merokok, sepertinya semakin banyak alasan untuk berhenti. Penelitian menunjukkan, tidak merokok dapat meningkatkan kesehatan saluran kencing termasuk kesehatan seksual lelaki. Dalam salah satu penelitian, peneliti melakukan survei kepada lebih dari 2.000 orang wanita bangsa Finlandia dengan usia mulai dari 18 sampai 79 tahun tentang kebiasaan merokok dan kesehatan saluran kencing mereka.

Peneliti menemukan bahwa perokok dan mantan perokok 1,8 sampai 2,7 kali lebih sering buang air kecil secara mendadak dan 1,7 hingga 3,0 kali harus buang air kecil secara rutin, daripada orang yang tidak pernah merokok.

Dalam studi yang dilakukan secara terpisah, peneliti menguji sebanyak 178 pria di Rumah Sakit VA di North Carolina. Setelah menyesuaikan dengan faktor lain seperti usia dan ras, peneliti menemukan bahwa responden yang giat olahraga terbukti mempunyai fungsi seksual yang lebih baik ketimbang yang tidak atau jarang berolahraga.“Dari fakta-fakta yang dibeberkan ini,tentunya kita semakin paham akan pentingnya berhenti merokok dan mulai berolahraga secara rutin,” kata Dr Anthony Y Smith.

Kamis, 20 Desember 2012

OSTEOPOROSIS

Osteoporosis atau pengeroposan tulang, adalah struktur tulang yang memburuk dan kepadatan massa tulang yang menurun, sehingga menyebabkan nyeri. Osteoporosis juga membuat tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Gejala osteoporosis ialah sering sakit punggung, postur tubuh membungkuk, dan berkurangnya tinggi badan. Meski demikian, kondisi osteoporosis yang masih dalam derajat ringan juga dapat terjadi tanpa disertai gejala apa pun.

Bila seorang pasien dicurigai mengalami osteoporosis, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan BMD (Bone Mineral Density). Melalui pemeriksaan ini dapat diketahui apakah benar terjadi osteoporosis dan bagaimana tingkat keparahan kondisi osteoporosis tersebut. Pemeriksaan BMD yang lazim digunakan adalah pemeriksaan jenis DXA (Dual X Ray Absorptiometry).

Osteoporosis bisa disebabkan oleh banyak hal, di antaranya kurang mengonsumsi vitamin D, kalsium, kurang beraktivitas fisik, berat badan yang terlalu rendah, konsumsi minuman beralkohol, dan adanya gangguan pada hormon. Beberapa hormon di dalam tubuh berperan penting dalam pengaturan penggunaan kalsium oleh tulang. Gangguan pada tiroid dan konsumsi obat-obatan tertentu seperti obat golongan kortikosteroid untuk asma atau radang sendi kronis juga bisa menyebabkan Anda mengalami pengeroposan tulang.

Jika Anda perokok, Anda juga berisiko mengalami osteoporosis. Efek racun dari nikotin yang mengenai sel-sel tulang akan menghalangi kemampuan tubuh untuk menggunakan estrogen, kalsium, dan vitamin D. Risiko Anda mengalami osteoporosis akan semakin meningkat jika Anda sudah memasuki usia lanjut, berat tubuh tidak normal, dan mengalami menopause.

Jika tidak segera diatasi, komplikasi yang paling sering terjadi pada osteoporosis adalah kasus patah tulang. Dan karena umumnya kasus osteoporosis terjadi pada golongan usia tua, maka jika terjadi komplikasi patah tulang, risikonya jauh lebih besar dan proses penyembuhannya lebih lama.

Berikut langkah-langkah untuk mencegah osteoporosis:

1. Konsumsi kalsium dan vitamin D. Kalsium bisa didapat dari susu rendah lemak, keju, susu kedelai, brokoli, dan sayuran hijau. Konsultasikan dengan dokter jika Anda membutuhkan suplemen kalsium tambahan. Sedangkan vitamin D fungsinya membantu penyerapan kalsium.
2. Olahraga rutin. Lakukan olahraga selama sekitar setengah jam per hari, lima sampai enam kali dalam seminggu, misalnya jalan kaki, aerobik, bersepeda, atau berenang.
3. Kurangi konsumsi garam. Garam meningkatkan pengeluaran kalsium lewat keringat dan urin.

4. Batasi konsumsi kafein, terutama bagi wanita yang sudah memasuki masa menopause.

5. Berhenti merokok. Merokok dapat menghambat pemulihan tulang yang keropos atau patah, dan menghambat pertumbuhan tulang.

dr. Janfrional6. Batasi konsumsi alkohol. Alkohol dapat mengganggu proses penyerapan kalsium dan mengurangi kadar hormon yang berperan dalam pembentukan tulang.

7. Waspadai obat yang Anda konsumsi, terutama obat golongan kortikosteroid yang digunakan dalam jangka panjang, karena meningkatkan risiko pengeroposan tulang.

8. Hindari aktivitas fisik berlebih. Bagi penderita osteoporosis, hindari mengangkat barang berat untuk menghindari terjadinya cedera

TANDA PENYAKIT DIABETES

Diabetes mengancam segala usia. Penyakit ini 'hinggap' di anak-anak hingga orang dewasa.

Apabila Anda bingung apakah berisiko terkena diabetes atau tidak, ternyata ada cara mudah untuk mendeteksinya.

Dokter Spesialis Anak Endokrin Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A(K) mengungkapkan ada tanda-tanda fisik yang bisa dilihat dengan mata telanjang.

"Jika di tekuk leher, ketiak dan ruas jari ada guratan hitam, maka Anda berisiko tinggi mengidap diabetes. Guratan hitam ini disebut acanthosis nigricans," jelas dr. Aman dalam diskusi Asupan Gula Tambahan serta Dampaknya pada Kesehatan dan Konsentrasi Anak di Sultan Hotel, Senayan, Jakarta (19/12).

Kelebihan berat badan atau memiliki tingkat insulin yang tinggi dalam darah, seperti pada diabetes tipe 2, menjadi pemicu timbulnya acanthosis nigricans. Berlebihnya jumlah insulin dapat merangsang aktivitas sel-sel pada kulit. Sehingga menyebabkan perubahan pada kulit.

"Guratan hitam ini menandakan seseorang mengalami resistensi insulin. Resistensi insulin ini menjadi tanda terjadinya kondisi pra-diabetes melitus tipe 2, yaitu tahapan sebelum menjadi diabetes," tambahnya.